Text
Bersahabat dengan kehidupan : memaknai dengan kearifan
Buku dengan judul âBersahabat Dengan Kehidupan, Memaknai Dengan Kearifanâ ini ditulis oleh Bhikkhu Sri Pannyavaro. Berisi mengenai makna kebahagian yang sesungguhnya dalam kehidupan, kita semua bisa menyebutkan kebahagiaan tetapi kita sulit memberikan jawaban yang jelas tentang apakah kebahagiaan itu, seperti apakah wujudnya kebahagiaan itu? dan karena definisi kita tentang kebahagiaan itu tidak pernah jelas, maka cara atau jalan yang kita tempuh, yang kita pilih untuk mencapai kebahagiaan sering juga tidak jelas. Buku ini menjabarkan mengenai hal-hal yang kita kenal sebagai kebahagiaan namun bersifat hanya sementara, apa yang menyebabkan tidak bahagia, dari mana datangnya rasa bahagia dan cara mencapainya dalam kehidupan sehari-hari kita. Salah satu sub yang mengena bagi saya adalah sub dengan judul âKebebasanâ. Setelah seminggu pikiran saya terganggu oleh masalah dalam karir dimana setelah resign kesetiaan saya terhadap company tempat saya bekerja selama lebih dari 7 tahun lamanya nampaknya tidak terlalu dihargai, pada saat saya menemukan kenyataan tidak yang tidak sesuai expektasi ini munculah penderitaan yang sangat, saya teringat dimana selama 7 tahun bekerja berapa banyak tawaran menggiurkan dari company lain yang sudah saya tolak demi bertahan di company ini. Saat menolak tawaran-tawaran tersebut yang terpikirkan oleh saya adalah saya harus membalas budi karena sudah banyak hal-hal yang saya pelajari di company ini, banyak bimbingan dari senior-senior yang membuat saya bisa seperti sekarang ini, setidaknya saya bisa membawa company ini lebih maju terlebih dahulu barulah saya tenang meninggalkan company karena telah membalas budi. Namun ternyata setelah tiba saat-nya saya harus resign, mendengar pendapat dari kiri dan kanan teman, saudara, rekan dll yang mengatakan kalau saya rugi menghabiskan 7 tahun lebih tidak mendapat bonus uang perpisahan ataupun uang terima kasih dari company, lalu mereka menceritakan mengenai apa saja yang mereka dapatkan dari company-nya setelah diatas 3 tahun bekerja. Dari semula yang saya tidak berpikir negatif mendadak pikiran saya kacau dan muncul perasaan yang mengatakan saya telah diperlakukan dengan tidak adil, saya tidak mendapatkan hak yang seharusnya saya terima. Selama seminggu ini hanya itu saja yang saya pikirkan sampai tanpa saya sadari hal ini merusak kesehatan saya sendiri. Memang guru Buddha selalu bersama saya, dikala kondisi pikiran mulai melenceng teringat buku yang saya beli sebulan lalu saat seminar Dharma Ajahn Brahm. Walaupun sudah sebulan dibeli saya masih belum sempat membacanya, sampai pada akhirnya saya telah resign saat ini dan memiliki banyak waktu, akhirnya saya sempat menyelesaikan buku tersebut. Membaca dan memahami apa yang dijelaskan oleh Bhikkhu Pannyavaro, saya mulai menyadari kemudian mengingat kembali bahwa segala keputusan yang saya buat dimasa lalu untuk bertahan di company tersebut adalah karena waktu bekerja yang wajar dalam arti lain tidak banyak lembur atau pekerjaan diluar jam kantor sehingga saya bisa meluangkan waktu untuk kegiatan rohai dan sosial. Dengan resiko yang telah saya ketahui pula bahwa bekerja diperusahaan berkembang tidak akan mendapat tunjangan apapun dan karena alasan itulah kesempatan untuk bekerja di company besar berkali kali saya abaikan. Dengan merenungkan kembali saya instropeksi diri, bahwa tidak seharusnya saya menuntut lebih dan seharusnya saya sudah mempersiapkan diri saat mengambil keputusan tersebut dulu.
Tidak tersedia versi lain